Cara Menghadapi Masalah di Keluarga dengan Bijak

    Kita bisa memilih teman mana saja, jika seorang teman salah, mungkin kita bisa menghapusnya dari daftar hidup. Namun tidak demikian dengan keluarga, tidak peduli permasalahannya sebesar apapun, maka tidak bisa ditinggalkan. Oleh karena itu, penting bagi kita mengetahui cara menghadapi masalah di keluarga dengan bijak.

    Hubungan dengan anggota keluarga adalah hubungan pertama. Mereka merupakan hubungan yang biasanya dijunjung tinggi, diperjuangkan, dan dipertahankan. Setiap orang berupaya menghadapi masalah untuk menjaga keluarganya dan untuk tetap dekat dengan mereka. Jika tidak demikian, tentu bisa mendapati penyesalan di masa depan.

    Di bawah ini adalah cara menghadapi masalah di keluarga dengan bijak.

    1. Jujur namun dengan hormat

    Keluarga adalah penting, bermakna, dan istimewa bagi Kamu. Tidak peduli bagaimana perasaan Kamu. Kamu tidak bisa menolak atau menghapus mereka dari hidup Kamu, namun justru perlu ikut melindungi mereka. Tetapi jika Kamu mendapati perasaan yang tidak menyenangkan, Kamu dapat menjelaskan bagaimana perasaan Kamu dengan jujur, mengapa Kamu kesal dan bagaimana situasi yang membuat Kamu merasa demikian.

    2. Komunikasi satu sama lain

    Menyisihkan komunikasi yang sehat adalah parameter penting untuk keakraban dan rasa kekeluargaan. Seringkali komunikasi menjadi akar dari masalah keluarga. Ada banyak kasus di mana masalah dapat diselesaikan dalam waktu singkat namun diperpanjang hanya karena kurangnya komunikasi. Bahkan bisa menyebabkan perceraian di antara anggota keluarga. Oleh karena itu, jangan ragu untuk mendiskusikan masalah Kamu dengan keluarga.

    3. Diskusi bersama

    Diskusi adalah salah satu strategi penting untuk mengatasi anggota keluarga yang sulit. Diskusi dapat dilakukan dengan menggunakan komunikasi yang efektif. Duduk dan bicarakan sebagai keluarga dengan tenang dan terbuka. Upayakan untuk tidak masuk ke mode perdebatan yang akan menyebabkan adu argumen. Diskusi melibatkan memberi dan menerima pendapat. Namun tentu tidak ada jaminan semua mendapatkan yang inginkan.

    4. Menangani argumentasi

    Kadang yang menjadi masalah adalah bagaimana kita berdebat, bukan apa yang diperdebatkan. Oleh karena itu, pendekatan dengan menawarkan solusi bisa diajukan, daripada berdebat seluruh keluarga dan tidak ada satu orang yang mendengarkan.

    5. Tujuan untuk berdamai bukan untuk menang

    Jika kita menginginkan mereka meminta maaf untuk penyelesaian masalah. Maka tujuannya adalah untuk menang. Pemikiran ini harus diubah bahwa untuk memperbaiki situasi, tujuannya adalah untuk berdamai.

    6. Menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga

    Kita tahu bahwa kita harus berjuang di dunia kerja. Namun kita juga harus menyisihkan waktu berkualitas untuk keluarga. Pekerjaan dengan kekeluargaan bukan untuk dipersaingkan. Tentu ketika bekerja kita mengurangi waktu dengan keluarga dan demikian pula sebaliknya. Namun waktu berkualitas adalah penting, bahkan waktu berkuantitas juga kadang penting.

    7. Mempertahankan situasi

    Ketika masalah keluarga muncul bisa sangat menyakitkan dan membingungkan. Cari tahu apa sebenarnya masalahnya dengan mempertahankan situasi. Pada akhirnya, Kamu bisa menjalani hidup yang bahagia. Tetapi jika Kamu berada di dekat orang-orang tertentu yang sangat mengganggu, mungkin Kamu harus membuat beberapa keputusan sulit. Namun ingatlah untuk tetap tenang dan mengendalikan emosi.

    8. Meminta bantuan atau konsultasi

    Mungkin Kamu pernah melakukan kesalahan, namun tidak ada individu yang sempurna. Setiap individu layak mendapatkan cinta dan penerimaan seperti halnya orang lain. Jika Kamu menemukan diri Kamu hanya berputar-putar, mungkin Kamu harus menerima bahwa Kamu tidak dapat menyelesaikan masalah sendiri. Dengan demikian Kamu perlu meminta bantuan.

    Setiap keluarga melewati masa-masa sulit. Memiliki konflik sesekali adalah normal, tetapi jika masalah keluarga menjadi terlalu berlebihan, mungkin sudah waktunya untuk konsultasi. Dapat dengan mencari psikolog atau konselor sebagai orang luar yang netral. Mereka dapat mengidentifikasi pola atau ketidakkonsistenan apapun yang terkait pada suatu permasalahan yang melibatkan psikologis.

    Namun perlu diingat bahwa mempelajari cara menghadapi masalah keluarga ini tidak sama dengan bertahan hidup dari orang tua yang melarang anak keluar rumah. Jika Kamu berurusan dengan masalah lebih kompleks, Kamu perlu mencari bimbingan dan konseling.