Ciri Kehidupan Manusia Purba pada Masa Food Gathering

    Pada awal mulanya, manusia purba bertahan hidup dengan metode food gathering. Food gathering merupakan cara mengumpulkan makanan dengan bergantung pada alam sekitarnya. Misalnya dengan meramu tanaman di sekitar mereka dan berburu hewan di hutan maupun di air. Berikut di sebutkan ciri-ciri kehidupan manusia purba pada masa food gathering.

    Ciri-ciri kehidupan manusia purba pada masa food gathering adalah

    1. Manusia purba belum mengenal penjinakan hewan dan domestikasi tanaman.

    2. Manusia purba hidup dengan nomaden, yaitu berpindah-pindah tempat tinggal. Bila sumber makanan di satu tempat telah habis, mereka perlu menemukan tempat lain.

    3. Tinggal di gua untuk berlindung dari cuaca dan fauna liar.

    4. Peralatan dan perlengkapan untuk bertahan hidup dibuat dari bahan seperti tulang dan batu yang belum dihaluskan, sehingga masih sangat kasar.

    Seiring pergantian waktu, manusia purba mulai merubah pola hidupnya dari masa berburu dan meramu (food gathering) ke tingkatan lanjut, yakni masa bercocok tanam (food producing). Jika di atas ciri-ciri masa food gathering, berikut di sebutkan pula ciri-ciri kehidupan manusia purba pada masa food producing.

    Ciri-ciri kehidupan manusia purba pada masa food producing adalah

    1. Manusia purba mulai tinggal menetap di satu tempat dengan berkelompok.

    2. Mulai terdapat kerja sama antar satu sama lain untuk kepentingan kelompoknya, misalkan membangun tempat tinggal dan lahan bercocok tanam dilakukan dengan gotong royong.

    3. Peralatan dan perlengkapan mulai meningkat, yaitu dibuat dari bahan seperti tulang dan batu yang sudah mulai diasah. Contohnya semacam beliung, kapak batu, anak panah, tombak, dll. Di antara peralatan batu tersebut, yang paling populer adalah beliung persegi.

    4. Mencukupi makanan dengan metode bercocok tanam dan berburu. Pada masa food produching ini, manusia mulai berupaya memelihara hewan hasil buruan untuk dikembangbiakkan.

    5. Mulai terdapat keyakinan dan pemujaan kepada roh nenek moyang. Kebiasaan semacam ini dikenal sebagai animisme dan dinamisme.

    Masa food produching ini terjadi bertepatan dengan masa neolitikum (zaman batu baru) dan masa megalithikum (zaman batu besar).

    Peralihan masa food gathering ke masa food producing

    Dengan terdapatnya perbedaan ciri-ciri kehidupan manusia purba pada masa food gathering dan producing seperti yang di sebutkan di atas, pastinya terdapat peralihan di zaman praaksara kala itu.

    Perkembangan zaman batu yang bisa dibilang sangat berarti pada kehidupan manusia adalah pada masa neolitikum atau zaman batu baru. Masa neolitikum ini bisa pula sebut sebagai zaman batu muda. Pada masa ini sudah terjadi revolusi kebudayaan, yakni terbentuknya pergantian pola hidup. Pola hidup food gathering digantikan dengan food producing.

    Peralihan masa mesolitikum ke neolitikum memang menunjukkan terdapatnya revolusi kebudayaan dari food gathering mengarah ke food producing, yaitu dengan muncul Homo Sapiens sebagai pendukungnya. Mereka tidak cuma mengumpulkan makanan, namun berupaya memproduksi makanan. Mereka mulai memahami beternak dan bercocok tanam sebagai proses untuk memproduksi makanan. Hidup berkelompok dengan gotong royong pun mulai dikembangkan.

    Aktivitas bercocok tanam ini mulai dilakukan setelah mereka memiliki tempat tinggal menetap, meski masih bersifat temporer. Mereka melihat biji-bijian sisa makanan yang tumbuh di tanah sehabis tersiram air hujan. Setelah melihatnya, dapat menjadi pelajaran dan mendorong mereka untuk bercocok tanam.