Cyberbullying: Pengertian, Contoh Kasus, Cara Mengatasi

    Tentu kita semua pernah mendengar kata Bullying, tetapi bagaimana dengan Cyberbullying? Di kalangan anak-anak ataupun anak muda sekarang kerap terjadi kasus ini. Mungkin belum banyak orang yang mengenalinya, karena itu berikut adalah pengertian, contoh kasus, dan cara mengatasi cyberbullying.

    Daftar Isi:

    Pengertian cyberbullying

    Cyberbullying adalah semua bentuk kekerasan yang dialami dan dirasakan oleh anak ataupun remaja yang dilakukan oleh teman seusia mereka lewat internet atau dunia maya. Pada Bahasa Indonesia, kita bisa sebut sebagai intimidasi dunia maya atau penindasan dunia maya.

    Peristiwa ini bisa terjadi pada seorang anak ataupun remaja yang diejek, dihina, diintimidasi, ataupun dipermalukan oleh anak ataupun remaja lainnya lewat media internet, teknologi digital, dan telepon seluler.

    Cyberbullying dianggap valid bilamana pelaku dan korban berumur di bawah 18 tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa. Sedangkan seumpama salah satu pihak yang ikut serta ataupun kedua pihak telah berumur di atas 18 tahun, maka kasus yang terjadi dikategorikan sebagai kejahatan dunia maya (cybercrime) atau pembuntutan dunia maya (cyberstalking).

    Kasus ini sering mirip dengan bullying umum yang kita kenal, namun ada beberapa perbedaan yang mencolok. Semisal korban cyberbullying mungkin tidak tahu identitas pelaku atau tidak tahu mengapa pelaku menargetkan dia.

    Perbedaan utama lain cyberbullying dari bullying umum yaitu, meski pembully bisa menyembunyikan identitas, korban tidak mempunyai tempat untuk bersembunyi.

    Rumah dan kamar tidur bagi remaja biasanya menjadi tempat perlindungan dari berbagai kasus di masa lalu. Namun sekarang ini, di tempat di mana seharusnya dia merasa sangat aman, dia masih bisa berada pada jangkauan cyberbullying melalui pesan, Email, media sosial, dll.

    Dikarenakan memungkinkan untuk menyembunyikan identitas atau sebagai anonim, maka melalui layar digital antara pelaku dan korbannya, bisa jadi ejekan dan hinaan dapat lebih ekstrem daripada yang terjadi secara langsung.

    Kasus ini dapat memiliki banyak dampak negatif pada korban, sebab media yang digunakan untuk melecehkan korban dapat menyebar dan dibagikan dengan mudah di antara banyak orang dan biasanya dapat diakses sepanjang waktu setelah kejadian pertama.

    Contoh kasus

    Bentuk kasus pada fenomena cyberbullying bermacam-macam. Misalkan bisa berbentuk pesan ancaman lewat Email kepada korban, mengunggah gambar untuk mempermalukan korban, membuat blog untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok korban, dll. Sedangkan contoh kasus cyberbullying di media sosial yang berbahaya dapat mencakup memposting ancaman, komentar seksual, informasi pribadi korban, ejekan yang merendahkan, dll.

    Alasan seseorang melakukan demikian bermacam-macam pula. Misalkan ada yang karena marah dan mau balas dendam, frustrasi, mau mencari atensi, bahkan ada juga yang menjadikannya semata-mata sebagai hiburan.

    Bersamaan dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi juga terus menjadi mutakhir. Anak-anak serta remaja sekarang ini telah mahir memakai peralatan teknologi dan mengakses internet. Media sosial pun sangat digemari oleh banyak anak muda.

    Dengan aktif di media sosial, seorang anak dapat dinilai gaul oleh anak yang lain. Sementara emosi remaja cenderung labil, sehingga beberapa dari mereka sering mengekspresikan diri dan kesulitan mengendalikan dirinya, hingga melakukan bullying kepada temannya. Misalnya menghina atau mempermalukan teman sekolahnya lewat media sosial.

    Mereka yang melakukan cyberbullying kepada temannya sering tidak menyadari akibat buruk yang bisa terjadi. Korban tersebut dapat ketakutan, sedih, kecewa, merasa tertekan dan dapat menarik diri dari lingkungannya karena kehilangan rasa percaya diri, dan berbagai respons emosional negatif lainnya.

    Cyberbullying ini sangat merugikan dan menjadikan orang lain memperoleh dampak negatif atas kasus yang terjadi. Kedudukan orang tua sangat berarti untuk menjauhkan anak-anak dari kasus bully apa pun. Bilamana diperlukan, orang tua harus mengawasi kegiatan cyber yang dilakukan anaknya. Jadi, orang tua pun harus paham tentang dunia cyber semacam media sosial.

    Tempat yang paling umum terjadi cyberbullying adalah:
    1. Media sosial, seperti Facebook, Instagram, Snapchat, dan Twitter.
    2. Email.
    3. SMS.
    4. Internet messenger (melalui perangkat, aplikasi, dll).

    Cara mengatasi cyberbullying

    Seumpama ejekan dan hinaan di media sosial dan forum digital, baik itu komentar, foto, posting, dll menyebar, maka dapat dilihat oleh siapa saja, baik itu orang yang dikenal maupun orang asing. Konten yang dibagikan di internet dapat menciptakan semacam catatan publik permanen tentang pandangan, aktivitas, dan perilaku seseorang.

    Catatan publik ini dapat dianggap sebagai jejak digital, yang dapat diakses oleh sekolah, perusahaan, perguruan tinggi, dll yang mungkin ingin mengetahui tentang individu tertentu. Karena itu, cyberbullying dapat merusak reputasi semua orang yang terlibat, namun tidak hanya orang yang diintimidasi, melainkan juga pada yang melakukan bullying atau ikut serta di dalamnya. Dengan demikian, sangat penting untuk mencegahnya.

    Bagi orang tua awasi aktivitas anak di internet

    Seorang anak dapat terlibat dengan cyberbullying melalui beberapa cara. Seorang anak dapat diintimidasi, mengintimidasi orang lain, ataupun menyaksikan intimidasi. Mungkin tidak semua orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya mengetahui media digital dan aplikasi yang digunakan oleh anak. Semakin banyak platform digital yang digunakan pun semakin banyak peluang untuk terlibat cyberbullying.

    Tanda seorang anak terlibat

    Banyak tanda yang bisa didapati bilamana cyberbullying terjadi pada seorang anak. Beberapa tanda bahwa seorang anak mungkin terlibat dengan cyberbullying adalah:
    1. Peningkatan atau penurunan yang signifikan untuk menggunakan perangkat, misalnya smartphone atau komputer.
    2. Seorang anak menunjukkan reaksi emosional (tawa, marah, kesal) pada perangkat mereka.
    3. Seorang anak menyembunyikan layar atau perangkat mereka ketika orang lain dekat dan menghindari diskusi tentang aktivitas yang mereka lakukan di perangkat mereka.
    4. Akun media sosial dinonaktifkan.
    5. Seorang anak mulai menghindari situasi sosial.
    6. Seorang anak menjadi tertekan dan kehilangan minat pada kegiatan tertentu.

    Apa yang harus dilakukan?

    Jika kita melihat tanda-tanda bahwa seorang anak mungkin terlibat dengan cyberbullying, maka perlu mengambil langkah-langkah untuk menyelidiki perilaku digitalnya. Bagaimana pun juga cyberbullying adalah bentuk penindasan dan sebagai orang dewasa harus mengambil pendekatan untuk mengatasinya.

    1. Kenali apa ada perubahan suasana hati atau perilaku dan cari tahu penyebabnya.
    2. Ajukan pertanyaan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana mulainya, dan siapa saja yang terlibat.
    3. Catat apa yang terjadi dan ambil tangkapan layar dari pos atau konten berbahaya jika memungkinkan untuk mendokumentasikannya.
    4. Sebagian besar platform media sosial dan sekolah memiliki kebijakan dan proses pelaporan yang jelas. Jika teman sekelasnya adalah pelaku, laporkan ke sekolahnya. Kita juga dapat menghubungi platform media sosial untuk melaporkan konten yang tidak sopan dan mereka dapat menghapusnya. Namun seumpama seorang anak telah mendapati ancaman fisik atau potensi kejahatan berbahaya lainnya, maka harus lapor ke polisi.
    5. Dukungan teman, guru, dan orang dewasa tepercaya kadang dapat melakukan intervensi publik. Intervensi ini misalnya mencakup memposting komentar positif untuk mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah yang positif.
    6. Bilamana diperlukan, pertimbangkan apa perlu melibatkan dukungan profesional, seperti berbicara dengan konselor, psikolog, atau psikiater.

    Referensi:
    1. en.wikipedia.org/wiki/Cyberbullying
    2. stopbullying.gov/cyberbullying/prevention/index.html

    Loading...