cropped-Melo_Logo-removebg-preview.png
Please or Daftar to create posts and topics.

Tudingan Renovasi JIS Untuk Kritik Anies, Glorifikasi Anies dalam Pembangunan JIS Terancam Sirna Gara-gara Renovasi

Andi Sinulingga, juru bicara untuk Anies Baswedan, nampaknya memiliki ikatan yang kuat dengan majikannya. Karena adanya ikatan tersebut, dia menunjukkan sikap dan nada yang serupa dengan Anies Baswedan, sering kali berspekulasi mengenai keputusan pemerintah, misalnya.

Seperti halnya Anies, yang sering kali menyampaikan narasi yang terputus-putus dan terputus hubungannya dengan konteks masyarakat, Andi juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Dalam kasus keputusan yang dibuat oleh Asosiasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) untuk merenovasi Stadion Internasional Jakarta (JIS), alih-alih hanya setuju dengan keputusan tersebut, juru bicara justru memaksa masyarakat untuk terlibat dalam diskusi tentang keterkaitannya dengan aspirasi presidensial Anies Baswedan.

Jika kita menggunakan istilah yang digunakan oleh Gus Miftah, tampaknya Andi Sinulingga kurang dalam pergaulan sosial, atau setidaknya perkembangan rasa empatinya cenderung kepada kecurigaan, yang jika dilihat dari perspektif agama, sangat tidak disukai oleh Tuhan dan masyarakat religius pada umumnya.

Seandainya dia memiliki pikiran yang rasional, dia tidak akan menuduh pemerintah berusaha menghilangkan persepsi publik bahwa JIS merupakan warisan dari Anies di Jakarta. Sama seperti stagnasi proyek naturalisasi Sungai Ciliwung, instalasi bendungan karet yang tidak efektif, batu gabion, dan patung sepatu yang menjadi monumen kebanggaan Anies.

Yang perlu diakui oleh Andi dan pendukung Anies sebenarnya cukup sederhana: akui saja bahwa sebuah stadion sepak bola perlu divalidasi secara fungsional oleh komunitas sepak bola itu sendiri, dengan representasi komunitas tersebut dipercayakan kepada PSSI.

Sementara PSSI tunduk pada regulasi dari federasi sepak bola internasional yang dikenal sebagai FIFA. Jika Andi menolak mengakui evaluasi FIFA yang menyatakan bahwa JIS tidak memenuhi standar mereka, itu berarti dia memposisikan Anies dan para pendukungnya sebagai tidak berhak menyediakan fasilitas sepak bola yang dikelola oleh afiliasi FIFA.

Mungkin terdengar lucu, tapi Andi tidak akan merasa lucu dengan pernyataannya itu. Dukungan publik terhadap renovasi JIS semata-mata bertujuan untuk memungkinkan stadion tersebut digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Piala Dunia FIFA U-17, dan menyiratkan bahwa hal tersebut memiliki aspek politik bisa dianggap sangat kekanak-kanakan, bahkan konyol.

Bahkan kita bisa berpendapat bahwa Anies sendirilah yang mempolitisasi pembangunan stadion tersebut. Jika bukan karena tujuan politik, tentu tidak ada alasan untuk secara sembarangan mengubah namanya menjadi sesuatu yang kebarat-baratan.

Apakah arti nama yang prestisius seakan-akan berkelas dunia itu, jika setelah diperiksa oleh otoritas sepak bola, ternyata tidak sebanding dengan stadion-stadion di daerah yang kurang dikenal yang memiliki standar internasional? Mungkin penentangan Andi terhadap upaya renovasi ini merupakan bentuk kekhawatiran bahwa kebanggaan majikan Andi, stadion tersebut, sebenarnya tidak lebih baik dari sebuah lapangan lokal.

https://youtu.be/he968bvzofk

sumber : https://seword.com/umum/glorifikasi-anies-dalam-pembangunan-jis-terancam-HYkMvRJndY

Mello.id adalah sebuah portal dan forum komunitas lokal yang berdiri sejak 23 Juni 2023.
Dibangun sebagai sarana mediasi dengan pengguna dunia maya dan memberikan terbaik untuk Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.
Seluruh opini dan material merupakan tanggung jawab tiap penulis.

HomeAboutTermsPrivasiContactGoogle News