Sikap Interaksi & Komunikasi Efektif di Lingkungan Seni

    Apresiasi seni rupa merupakan aktivitas mengindra hasil karya seni rupa, dapat dengan merasakan, menikmati, menghayati, dan menghargai nilai-nilai estetika pada karya seni. Lalu juga menghormati keanekaragaman konsep dan variasi keartistikan yang ada di seni rupa. Dengan sikap yang apresiatif ini, dapat mendukung interaksi dan komunikasi yang efektif dengan lingkungan seni budaya. Melalui sikap ini juga dapat mengembangkan sikap yang demokratis, etis, toleransi, dan sikap-sikap positif lainnya.

    1. Sikap demokratis

    Sikap demokratis semisal bisa dilihat ketika seseorang menerapkan prinsip diferensiasi dan tidak diskriminatif. Contohnya adalah ketika di lingkungan seni sedang menentukan tema untuk pameran, dia memberikan peluang yang sama kepada semua anggota panitia yang mengemukakan pendapat.

    Lalu contoh lain bisa dilihat ketika seseorang tidak pernah mempersoalkan gender, baik di lingkungan seni maupun di lingkungan sosial umum. Prinsip kesetaraan gender ini perlu diterapkan ke sesama teman, lingkungan masyarakat seni, dan lingkungan pergaulan sosial pada umumnya.

    2. Sikap etis

    Sikap etis semisal bisa dilihat ketika seseorang sedang berada di kegiatan diskusi, dia berupaya menjaga kerukunan pembicaraan yang sedang berlangsung. Yaitu dengan tidak mengucapkan perkataan ataupun menunjukkan sikap yang bersifat merendahkan, menertawakan, menghina, melecehkan, dan perbuatan yang negatif lainnya.

    Sikap yang sesuai dengan etika atau sikap etis ini bisa dikembangkan melalui apresiasi seni. Yang mana juga diperlukan untuk bisa menjaga keakraban dan keharmonisan dengan masyarakat, baik itu masyarakat seni ataupun umum.

    3. Sikap toleran

    Sikap toleran bisa dilihat ketika seseorang bisa menerima perbedaan pendapat, semisal pendapat yang berhubungan dengan apresiasi dan kritik seni rupa. Yang mana berdasarkan pengkajian dan penafsiran, perbedaan sudut pandang untuk estetika merupakan persoalan yang biasa terjadi. Sebab semua orang tidak bisa terhindar dari subjektivitasnya.

    Pada apresiasi dan kritik seni rupa, pendapat yang berbeda sebenarnya justru dapat dimanfaatkan untuk memperoleh sudut pandang dari sisi yang lain. Oleh karena itu, sebaiknya sebisa mungkin berupaya untuk menerima dan menghargai pendapat lain meskipun bertentangan dengan pendapat pribadi.

    Di lingkungan seni budaya, sikap-sikap positif di atas sangat diperlukan untuk dapat membentuk interaksi dan komunikasi yang efektif dengan seni. Misalnya ketika sedang mengunjungi pameran, museum, galeri, dan sanggar. Lalu juga ketika sedang melakukan pembicaraan yang berhubungan dengan seni, contohnya ketika sedang diskusi untuk kegiatan pameran seni rupa di sekolah.

    Dengan sikap yang apresiatif, kita juga dapat mengamalkan perilaku positif ketika berinteraksi dan berkomunikasi dengan dengan masyarat seni rupa, seni pertunjukan, dll di lingkungan seni budaya. Namun tidak terbatas pada lingkungan seni budaya saja, melainkan juga perlu diterapkan di lingkungan masyarakat pada konteks yang lebih luas lagi.