Khutbah Jumat Singkat Terbaru Tentang Berbagai Tema 2023

Mello.id – Dalam agama Islam, shalat Jum’at merupakan salah satu ibadah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Selain melaksanakan shalat berjamaah, shalat Jum’at juga disertai dengan Khutbah Jumat Singkat yang dilakukan oleh seorang khatib.

Khutbah dalam shalat Jum’at memiliki peran penting dalam memberikan pengajaran, nasihat. Tentunya mengingatkan umat Muslim akan kewajiban dan tanggung jawab mereka sebagai seorang Muslim.

Pada pembahasan selanjutnya, hajijatim akan membahas mengenai Khutbah Jumat Singkat. Juga mengenai hukum khutbah dalam shalat Jum’at, tata cara pelaksanaannya, materi yang dibahas, dan berbagai hal terkait yang perlu diketahui. Berikut informasinya.

Hukum Khutbah Dalam Shalat Jum’at

Khutbah merupakan salah satu bentuk dakwah yang dilakukan oleh seorang khatib dalam shalat Jum’at. Selain itu khutbah memiliki tujuan untuk memberikan pengajaran, nasihat, dan membimbing umat Muslim dalam menjalankan ajaran agama Islam.

Khutbah menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan, mengingatkan umat tentang kebaikan, meluruskan pemahaman yang salah, dan memotivasi umat dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Kemudian Khutbah Jumat Singkat dalam shalat Jum’at memiliki signifikansi yang tinggi dalam agama Islam. Khutbah menjadi momen di mana umat Muslim berkumpul untuk mendengarkan nasihat dan pengajaran agama.

Melalui khutbah, umat Muslim diberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran Islam, diberi motivasi untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa. Serta diingatkan akan tanggung jawab mereka sebagai umat Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh Naskah Khutbah Jumat Singkat

Khutbah dalam shalat Jum’at memiliki peran penting dalam kehidupan umat Muslim. Melalui khutbah, umat Muslim diberikan pengajaran, motivasi, dan pengingat akan ajaran agama Islam.

Khutbah Jumat Singkat membantu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, mempererat persaudaraan, serta mengingatkan umat Muslim akan tanggung jawab mereka sebagai umat Islam.

Berikut contoh naskah Khutbah Jumat Singkat :

1. Bertutur yang Baik atau Diam

Hadirin sholat Jumat yang dimuliakan Allah. Pada kesempatan ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjauhi larangan Allah sejauh-jauhnya dan menjalankan perintah-Nya semampunya.

Sesungguhnya umat Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Di antara bentuk kasih sayang yang terkandung dalam ajaran Islam adalah berkata-kata yang baik.

Perkataan dan ucapan yang baik merupakan perbuatan terpuji yang mendatangkan kebaikan dan dapat meninggikan derajat, baik di sisi Allah maupun di tengah-tengah manusia. Allah SWT memerintahkan kita untuk mengucapkan perkataan yang baik. Dalam Surat al-Baqarah ayat 83 Allah berfirman :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Artinya: “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”  

Di ayat lain tepatnya pada dalam surat Al-Isra’ ayat 53, Allah menegaskan agar orang-orang beriman untuk berkata-kata yang baik.

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Artinya: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Ayat-ayat yang telah dibacakan tadi merupakan pengingat bagi kita supaya senantiasa menjaga ucapan kita. Tidaklah yang keluar dari mulut kita melainkan kebaikan, minimal, jika kita tidak bisa mengucapkan kebaikan, maka lebih baik diam. Jangan sampai ucapan yang keluar dari lisan kita malah menyakiti hati orang lain. Ingatlah pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita semua:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim). 

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Semoga kita dapat menjadi pribadi yang baik dalam berperilaku maupun bertutur kata, semoga kita digolongkan sebagai orang yang beriman, dan orang yang beriman itu bukanlah mereka yang suka mencaci maupun melaknat.

2. Mengobati Hati dari Penyakit Riya

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Takwa adalah kata yang ringan untuk diucapkan, akan tetapi berat dalam timbangan amal perbuatan. Takwa tempatnya adalah hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke dadanya tiga kali dan mengatakan:

اَلتَّقْوَى هَا هُنَا، اَلتَّقْوَى هَا هُنَا (رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ) ـ

Artinya: “Takwa ada di sini, takwa ada di sini” (HR Ahmad dalam Musnad-nya).

Jadi, hati adalah pemimpin anggota badan. Jika hati baik, maka seluruh anggota badan akan baik sehingga orang menjadi bertakwa. Sebaliknya jika hati rusak, maka anggota badan menjadi rusak sehingga orang menjadi pelaku maksiat.

Saudaraku seiman rahimakumullah,

Oleh karenanya mari kita perbaiki hati kita dengan menerapkan adab-adab yang diajarkan dalam Islam secara lahir dan batin. Kita obati hati dengan mengikuti ajaran Allah ta’ala dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penyakit-penyakit hati itu hanya bisa diobati dengan kesungguhan kita mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.

Saudaraku seiman rahimakumullah,

Di antara penyakit hati adalah riya’, yaitu melakukan bentuk ketaatan agar dilihat oleh orang lain dengan tujuan mengharapkan pujian darinya.

Mari kita ikhlaskan niat selalu hanya karena Allah ta’ala dan jangan sampai jatuh pada maksiat riya’. Sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu meriwayatkan hadits qudsi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman:

أَنَا أَغْنَىْ الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ (رواه مسلم) ـ

Artinya: “Aku tidak menerima tujuan lain dalam beramal, barangsiapa melakukan satu amal perbuatan dan memiliki tujuan lain selain ridha-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan tidak menerimanya” (HR Muslim)

Oleh karenanya, mari kita jadikan ridha Allah Sang pencipta kebaikan dan keburukan sebagai tujuan kita. Kita ikhlaskan niat karena Allah dan jangan kita pedulikan apakah orang mencela atau memuji kita. Sungguh kebaikan seluruhnya ada pada ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Saudaraku seiman rahimakumullah,

Jika kita melakukan shalat, maka kita lakukan karena Allah. Jika kita bersedekah, maka kita bersedekah karena Allah. Jika kita perindah akhlak, kita lakukan itu karena Allah. Jika kita belajar ilmu agama, maka juga karena Allah. Jika kita mengajarkan ilmu agama, maka kita mengajar karena Allah. Jika kita menaati Allah, maka kita taat karena semata-mata ingin meraih ridha-Nya. Jika kita melakukan itu semua bukan karena Allah melainkan karena tujuan-tujuan lain, maka sia-sialah umur kita dan alangkah ruginya waktu kita.

Demikian khutbah singkat ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Lihat Juga : Doa Qunut Subuh versi Panjang dan Pendek – Arab, Latin, Artinya

Tata Cara Pelaksanaan Khutbah dalam Sholat Jum’at

Tata cara Khutbah Jumat Singkat mengacu pada langkah-langkah yang harus diikuti oleh khatib dalam melaksanakan khutbah Jumat. Berikut adalah tata cara khutbah Jumat yang umum dilakukan:

1.Persiapan:

  1. Khatib melakukan persiapan materi khutbah, yang mencakup pemilihan tema yang relevan dan bermanfaat bagi jamaah.
  2. Khatib juga sebaiknya melakukan penelitian dan studi mendalam terkait tema yang akan disampaikan untuk memperoleh pemahaman yang baik.

2. Waktu Pelaksanaan:

  1. Khutbah Jumat dilaksanakan pada hari Jumat setelah dilakukan shalat Jumat.
  2. Khutbah dilakukan sebelum pelaksanaan shalat Jumat.

3. Persiapan Mental dan Spiritual:

  1. Khatib sebaiknya melakukan persiapan mental dan spiritual sebelum memulai khutbah, seperti berdoa dan memohon petunjuk serta keberkahan dari Allah SWT
  2. Khatib juga dapat melakukan bacaan istighfar untuk memohon ampunan Allah SWT.

4. Memasuki Masjid:

  1. Khatib memasuki masjid dengan berhati-hati dan memperhatikan tata tertib masjid.
  2. Khatib dianjurkan untuk memperbanyak bacaan tasbih dan doa-doa sunnah saat memasuki masjid.

5. Pelaksanaan Khutbah:

  1. Khatib naik ke mimbar dengan bismillah dan berdiri di atas mimbar.
  2. Khutbah dimulai dengan membaca hamdalah dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  3. Setelah itu, khatib membaca ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pengantar khutbah.
  4. Khutbah Jumat terdiri dari dua bagian, yang dipisahkan oleh waktu singkat untuk shalat.
  5. Khatib menyampaikan khutbah dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh jamaah
  6. Khutbah Jumat Singkat dapat mengandung nasehat, pengajaran agama, motivasi, atau pembahasan tentang umat Muslim.
  7. Khatib sebaiknya menggunakan bahasa yang jelas, lugas, dan mudah dipahami oleh jamaah.

6. Sholat Jumat:

  1. Setelah selesai bagian pertama khutbah, khatib duduk sebentar untuk melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid.
  2. Setelah itu, khatib melanjutkan dengan bagian kedua khutbah.
  3. Setelah selesai khutbah, khatib memberikan salam kepada jamaah.

7. Doa Penutup:

  1. Setelah memberikan salam, khatib membaca doa penutup khutbah
  2. Jamaah mengikuti dengan membaca doa.

Lihat Juga : Bacaan Doa Selamat Dunia Akhirat Pendek, Panjang, Arab & Latin

Syarat Khatib Pada Khutbah Jumat

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang khatib dalam melaksanakan Khutbah Jumat Singkat. Berikut adalah syarat-syarat yang umumnya berlaku:

  1. Muslim:
    Seorang khatib harus beragama Islam.
  2. Dewasa:
    Khatib harus berusia dewasa, yaitu telah mencapai usia baligh.
  3. Berilmu:
    Khatib sebaiknya memiliki pengetahuan agama yang memadai.
  4. Adil dan bertakwa:
    Khatib harus memiliki sifat adil dan bertakwa.
  5. Mampu berkomunikasi:
    Khatib sebaiknya memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.
  6. Tidak terhalang hukum:
    Khatib tidak boleh memiliki hambatan hukum yang menghalangi pelaksanaan tugasnya sebagai khatib.
  7. Dapat dipercaya:
    Khatib harus memiliki reputasi yang baik dan dapat dipercaya oleh jamaah.

Syarat-syarat ini penting untuk memastikan bahwa khutbah Jumat dilakukan oleh orang yang memenuhi persyaratan agama.

Rukun Khutbah Sholat Jumat

Rukun Khutbah Jumat Singkat adalah hal-hal yang harus dilakukan oleh khatib dalam menyampaikan khutbah Jumat. Berikut adalah rukun-rukun khutbah Jumat:

  1. Niat:
    Sebelum memulai khutbah, khatib harus berniat secara ikhlas untuk melaksanakan khutbah Jumat.
  2. Berdiri di atas mimbar:
    Khatib harus berdiri di atas mimbar sebagai tempat untuk menyampaikan khutbah.
  3. Membaca hamdalah:
    Khutbah Jumat dimulai dengan membaca hamdalah, yaitu memuji Allah SWT sebagai ungkapan rasa syukur.
  4. Membaca shalawat:
    Setelah membaca hamdalah, khatib membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  5. Membaca ayat-ayat Al-Qur’an:
    Khatib membaca beberapa ayat Al-Qur’an sebagai pengantar khutbah Jumat.
  6. Memberikan salam:
    Khatib memberikan salam kepada jamaah dengan mengucapkan salam “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.
  7. Memberikan khutbah:
    Khatib mulai menyampaikan khutbah Jumat.
  8. Menghindari gangguan:
    Khatib harus menjaga ketertiban dan menghindari gangguan selama khutbah. .
  9. Membaca doa:
    Setelah selesai menyampaikan khutbah, khatib membaca doa penutup sebagai ungkapan rasa syukur.

Rukun-rukun ini penting untuk dipatuhi agar khutbah Jumat dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan tuntunan agama.

Lihat Juga : Kumpulan Doa Setelah Sholat Fardhu – Arab, Latin dan Artinya

Tinggalkan Balasan