Nilai Estetis Sebuah Karya Seni Rupa 2 & 3 Dimensi

    Nilai estetis pada sebuah karya seni rupa 2 dimensi dan 3 dimensi bisa bersifat objektif dan subjektif.

    1. Objektif

    Nilai estetis yang bersifat objektif berupa keindahan karya seni yang terletak pada bentuk karya seni rupa tersebut dan bisa dilihat dengan mata. Nilai estetis ini tersusun dari komposisi seni rupa dengan perpaduan yang pas. Yaitu melalui penataan unsur-unsur dengan dengan menyesuaikan prinsip-prinsip seni rupa, hingga membentuk kesatuan dan keselarasan.

    2. Subjektif

    Nilai estetis yang bersifat subjektif berupa keindahan yang tidak terbatas pada unsur-unsur yang dilihat oleh mata. Melainkan juga ditentukan oleh selera penikmat seni yang melihatnya.

    Sebagai contoh untuk subjektivitas ini adalah ketika kita di pameran mendapati hasil karya yang menurut kita begitu bagus. Maka kita merasa tertarik pada karya seni yang ditampilkan tersebut dan merasa senang untuk terus melihatnya, bahkan mungkin ingin memilikinya. Namun bisa saja teman kita tidak demikian dan justru dia lebih tertarik dengan karya seni yang lainnya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa nilai estetis seni rupa bisa bersifat subjektif.

    Pengertian nilai estetis karya seni rupa

    Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), estetis diartikan sebagai berikut

    1. Mengenai keindahan, Menyangkut apresiasi keindahan (alam, seni, dan, sastra).

    2. Mempunyai penilaian terhadap keindahan.

    Sedangkan estetika adalah sebagai berikut.

    1. Cabang filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya.

    2. Kepekaan terhadap seni dan keindahan.

    Dengan begitu, bisa diartikan bahwa nilai estetis karya seni rupa adalah sebuah keindahan yang bisa kita rasakan setelah kita menilai seberapa indah sebuah objek yang berupa hasil karya seni.

    Pengaruh nilai estetis seni

    Mempelajari seni tidak bisa terlepas dari persoalan estetis ini. Nilai estetis sangat mempengaruhi keindahan seni rupa, baik itu 2 dimensi ataupun 3 dimensi. Para seniman juga mempelajari nilai estetis untuk bisa menyajikan karyanya yang indah kepada para penikmat seni. Lalu juga bisa digunakan sebagai acuan untuk mempelajari hasil karya yang cocok untuk dapat dipersembahkan ke masyarakat.

    Melalui pembelajaran nilai estetis ini, kita bisa mengetahui adanya sifat objektif dan subjektif. Dengan begitu, kita juga bisa mengetahui bahwa pembicaraan tentang seni tidak terbatas pada keindahan yang dilihat dengan mata saja. Melainkan juga membuka wawasan kita untuk memahami apresiasi dan kritik dalam karya seni.

    Ketika mendapati hasil karya yang kita lihat menurut kita tidak indah, bukan berarti bisa memberi penilaian bahwa karya seni tersebut buruk, tidak pantas, dan sebagainya. Namun dapat bersikap bijaksana untuk melihat latar belakang di balik penciptaan karya seni tersebut, lalu mencari tahu nilai keindahan yang mungkin tersembunyi di baliknya. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan sikap apresiatif dan juga bisa menghasilkan kritikan yang bagus.

    Penilaian estetika hasil karya

    Untuk melakukan penilaian seberapa estetis karya seni bisa kita lakukan dengan mengamati hasil karya seni rupa 2 dimensi dan 3 dimensi yang terdapat di sekitar. Kita bisa mengamatinya, lalu membandingkannya dengan hasil karya yang lain. Dengan begitu kita bisa mengetahui aspek mana yang menarik perhatian berdasarkan unsur-unsur dari objek yang terlihat. Misalnya bisa dengan mengamati beberapa objek berikut ini.

    1. Seni lukis

    Lukisan sering dijadikan koleksi berharga dan hiasan di rumah. Dengan nilai estetis dan karakteristik yang dimilikinya, bisa menjadikannya sebagai sebuah karya seni yang menarik perhatian bagi banyak orang.

    2. Seni patung

    Zaman dahulu banyak pembuatan patung yang ditujukan untuk kepentingan keagamaan. Semisal pada zaman Hindu dan Buddha, banyak patung yang dibuat untuk menghormati Dewa.

    Sekarang ini banyak patung yang dibuat untuk memperingati peristiwa bersejarah. Lalu fungsi patung juga digunakan untuk hiasan, yang mana bisa dibuat dengan bentuk yang bervariasi untuk dinikmati nilai estetis bentuk tersebut.

    3. Seni kriya

    Seni kriya merupakan keterampilan tangan biasanya menitikberatkan pada fungsi, yaitu mengolah bahan baku menjadi benda yang memiliki nilai guna. Namun pada seni kriya ini biasanya tidak melupakan nilai estetis pada benda tersebut.

    4. Arsitektur

    Arsitektur ditujukan untuk merancang sebuah bentuk dari bangunan. Namun tidak sekadar merancang saja, melainkan juga membangun sebuah bangunan. Bangunan tersebut dapat dikatakan memiliki nilai estetis yang bagus jika memenuhi fungsi bangunan dan memiliki karakter yang kuat.