Peristiwa Rengasdengklok

    Peristiwa Rengasdengklok – Sesudah mendapat kabar bahwa Jepang menyerah dari Sekutu, bangsa Indonesia mulai menyiapkan kemerdekaannya. Berbagai perundingan dilakukan oleh para pemuda dengan para tokoh tua, juga di antara para pemuda sendiri.

    Meski begitu, di antara keduanya memiliki perbedaan pendapat. Akibat itu, terjadi peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa ini merupakan peristiwa penculikan terhadap Soekarno dan Hatta oleh beberapa tokoh pemuda. Nah kapan peristiwa Rengasdengklok tersebut terjadi? Berikut adalah pembahasannya.

    Daftar Isi:

    Kapan peristiwa Rengasdengklok terjadi?

    Peristiwa Rengasdengklok terjadi pada tanggal 16 agustus 1945.

    Siapakah yang diamankan dalam peristiwa Rengasdengklok?

    Yang diamankan dalam peristiwa Rengasdengklok di antaranya adalah Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Fatmawati, dan Guntur Soekarno Poetra.

    Siapakah yang memelopori peristiwa Rengasdengklok?

    Pelopor Rengasdengklok adalah tokoh pemuda. Di antaranya adalah Soekarni, Wikana, Aidit, serta Chaerul Saleh

    Apa tujuan peristiwa Rengasdengklok?

    Tujuannya adalah mendesak tokoh tua untuk menyegerakan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    Apa yang terjadi di Rengasdengklok?

    Yang terjadi di Rengasdengklok adalah perdebatan antara para pemuda dengan tokoh tua yang berhubungan dengan kapan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    Apa hasil kesepakatan pada peristiwa tersebut?

    Sesudah perdebatan dan ditengahi oleh Ahmad Soebardjo, menjelang malam hari Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta kembali ke Jakarta. Mereka tiba di Jakarta pada pukul 23.30 waktu Jawa zaman Jepang (23.00 WIB).

    Sehabis Soekarno dan Hatta singgah di rumahnya masing-masing, mereka bersama dengan beberapa yang lain pergi ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol Nomor 1 Jakarta, yakni tempat Ahmad Soebardjo bekerja. Di tempat tersebut dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

    Penutup

    Peristiwa ini merupakan peristiwa penculikan yang dilakukan beberapa pemuda di antaranya adalah Soekarni, Wikana, Aidit, serta Chaerul Saleh dari perkumpulan Menteng 31 terhadap Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.

    Pada saat itu Soekarno dan Hatta, beberapa tokoh ingin proklamasi dilaksanakan lewat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Namun para pemuda ingin proklamasi dilakukan segera tanpa perlu lewat PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain alasan tersebut, peristiwa ini juga untuk mencegah Soekarno dan Hatta dipengaruhi atau diancam oleh Jepang. Para pemuda tidak mau kalau kemerdekaan yang sesungguhnya adalah hasil berjuang dari bangsa Indonesia, seakan-akan merupakan hasil pemberian dari Jepang.

    Sebelum peristiwa ini terjadi, para pemuda sudah berunding di Pegangsaan Timur, Jakarta pada tanggal 15 agustus 1945. Pada perundingan tersebut, diputuskan untuk melaksanakan kemerdekaan lepas dari semua ikatan atau hubungan dengan janji kemerdekaan dari pihak Jepang. Hasil keputusan tersebut disampaikan kepada Soekarno pada malam hari ini, namun ditolak sebab Soekarno merasa punya tanggung jawab sebagai ketua PPKI.

    Kemudian terjadi peristiwa Rengasdengklok tersebut pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang dan didesak untuk menyegerakan proklamasi kemerdekaan. Hingga kemudian terjadi kesepakatan antara tokoh tua yang diwakili Soekarno dan Hatta juga Ahmad Soebardjo dengan para muda mengenai kapan proklamasi dilaksanakan.

    Rencananya proklamasi kemerdekaan dibacakan Ir. Soekarno dengan didampingi Drs Mohammad Hatta pada hari Jumat 17 Agustus 1945 di lapangan IKADA, yang saat ini merupakan lapangan Monas, atau di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56.

    Lalu dipilih rumah Soekarno sebab di lapangan IKADA telah beredar kabar kalau ada suatu acara yang mau diadakan. Karena itu pasukan Jepang telah bersiap-siap. Guna menghindari kericuhan ketika sedang pembacaan proklamasi, maka dipilih rumah Soekarno. Teks proklamasi disusun di rumah milik Djiaw Kie Siong, Rengasdengklok.

    Ahmad Soebardjo ke Rangasdengklok menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati, dan Guntur. Dia mengundang Soekarno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam mereka sampai di Jakarta. Pada esok hari, yaitu pada tanggal 17 agustus 1945 proklamasi dibacakan.


    Share this post:
    Loading...