Apa yang Dimaksud Politeisme? Berikut Pengertiannya

    KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mendefinisikan politeisme sebagai kepercayaan atau pemujaan kepada lebih dari satu Tuhan atau kepercayaan kepada banyak Tuhan. Tetapi mungkin definisi ini terasa kurang atau terlalu singkat. Karena itu, berikut dijelaskan pengertian politeisme lebih lanjut dan beberapa soal yang berhubungan dengannya.

    Pengertian politeisme

    Politeisme adalah wujud keyakinan yang mengakui adanya lebih dari satu atau banyak Tuhan maupun dewa. Kata ini berasal dari 2 kata yaitu, poli artinya banyak dan teisme artinya percaya Tuhan, sehingga digabung memiliki arti percaya banyak tuhan. Lawan kata dari pengertian ini adalah monoteisme, yaitu keyakinan yang cuma mengakui satu Tuhan.

    Contoh politeisme

    Politeisme bisa dikatakan sebagai paham teisme yang paling dominan pada sejarah. Contoh politeisme yang paling dikenal pada zaman kuno yaitu mitologi Yunani atau Roma (Zeus, Apollo, Aphrodite, Poseidon, dll). Contoh lain yaitu Agama Hindu yang memiliki lebih dari 1 dewa.

    Walaupun Hinduisme pada hakikatnya memiliki sifat panteisme, agama ini juga meyakini keberadaan banyak dewa. Perlu dicatat bahwa pada agama politeis sekalipun, biasanya memiliki satu dewa yang lebih berkuasa daripada dewa-dewa lainnya, misalkan Zeus pada mitologi Yunani atau Roma dan Brahma pada Agama Hindu.

    Etimologi

    Secara etimologi, politeisme barasal dari Bahasa Yunani, πολυθεϊσμός yaitu polytheismos. Sebutan ini pada awalnya dipakai oleh penulis Yahudi Philo dari Alexandria untuk berdebat dengan orang Yunani.

    Politeisme memang sejenis teisme. Meskipun pada umumnya teisme cenderung ke monoteisme, yaitu kepercayaan pada satu Tuhan. Penyembahan atau kepercayaan pada banyak dewa politeis, biasanya dirangkai menjadi jajaran dewa dan dewi, dengan agama dan pemujaan mereka.

    Politeisme merupakan bentuk khas kepercayaan selama Zaman Perunggu dan Zaman Besi hingga Zaman Axial dan perkembangan agama-agama Ibrahim, yang di mana monoteisme sangat ditegakkan. Soal ini didokumentasikan pada agama-agama sejarah kuno Klasik, terutama agama Yunani kuno dan agama Romawi kuno, dan setelah penurunan politeisme Yunani-Romawi pada agama-agama suku seperti paganisme Jerman, Slavia dan Baltik.

    Agama-agama politeis yang sekarang ini adalah agama tradisional Cina, Hindu, Shinto Jepang, Santeria, dan berbagai agama neopagan.

    Para dewa dan ketuhanan

    Para dewa politeis biasanya ditafsirkan seperti tokoh yang memiliki status lebih besar atau lebih kecil, dengan memiliki keahlian individu, keperluan, kemauan, dan sejarah. Pada banyak soal, karakter mereka biasanya mirip dengan manusia atau cenderung antropomorfisme, namun dengan penambahan kekokohan, keahlian, dan pengetahuan atau persepsi. Antropomorfisme yaitu atribusi karakteristik manusia ke makhluk bukan manusia.

    Pada banyak soal, para dewa memiliki urutan dari yang paling tinggi dengan rangkaian tertentu. Pada beberapa soal, dibagi ke beberapa kelas dengan meyakini eksistensi semua dewa, namun bukan berarti semua disembah.

    Jenis-jenis dewa

    Jenis-jenis dewa yang banyak ditemukan pada politeisme yaitu.

    a. Dewa pencipta

    b. Culture hero

    c. Dewa kematian (chthonic)

    d. Dewa Langit (celestial)

    e. Dewa Matahari

    f. Dewa air

    g. Dewa seni, sains, pertanian, dll.

    Mitologi dan agama

    Di era Klasik, Sallustius mengkategorikan mitologi menjadi 5 jenis berikut.

    a. Theological

    b. Physical

    c. Psychological

    d. Material

    e. Mixed

    Sallustius merupakan penulis pada abad ke 4 M, teman Kaisar Romawi Julian.

    Referensi:
    1. kbbi.kemdikbud.go.id/entri/politeisme
    2. en.wikipedia.org/wiki/Polytheism