Puasa Tasua dan Asyura: Dalil dan Hukum Melaksanakannya

Mello.idUmat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah di bulan Muharram, yakni puasa Tasua dan Asyura. Puasa Tasua dan Asyura memiliki keutamaan yang sayang untuk dilewatkan. Apa dalil puasa Tasua dan Asyura dan hukum melaksanakanya?

Puasa sunnah bulan Muharram ini dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Puasa Tasua dilakukan pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram dalam kalender Hijriah. Kedua puasa di bulan Muharram ini memiliki keutamaan cukup besar, meskipun hanya berlangsung selama dua hari.

Bagi yang igin melaksanakan puasa Tasua dan Asyura, namun ingin lebih dahulu tahu apa dalil dan hukumnya, bisa menyimak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Dalil Puasa Tasua dan Asyura Bulan Muharram

  1. Dalil Puasa Tasua pada Tanggal 9 Muharram

Dalil 1:

“‘Wahai Rasulullah, hari ini (10 Muharam) adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.’ Lantas beliau mengatakan,’Apabila tiba tahun depan-insya Allah (jika Allah menghendaki)-kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.’ Ibnu Abbas mengatakan, ‘Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.’” (HR. Muslim no. 1134)

Dalil 2:

“Selisihilah orang-orang Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharam.” (Zaadul Ma’ad [II/60] oleh Ibnul Qayyim, sahih, namun diriwayatkan secara mauquf).

  1. Dalil Puasa Asyura pada Tanggal 10 Muharram

Dalil 1:

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa Asyura. Kemudian, Rasulullah SAW bertanya, ‘Hari yang kalian berpuasa ini hari apa?’ Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ‘Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Firaun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini.’ Kemudian, Rasulullah SAW bersabda, ‘Kami seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.’ Lalu, setelah itu, Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” (HR. Muslim no. 1130).

Dalil 2:

“Hari Asyura adalah waktunya puasa orang-orang Quraisy pada zaman Jahiliyah. Dan Rasulullah pun melaksanakannya. Tatkala Nabi tiba di Madinah, beliau tetap melakukan puasa Asyura dan memerintahkan sahabat untuk melakukan puasa itu juga. Ketika diwajibkan puasa Ramadan, beliau meninggalkan puasa Asyura dan beliau bersabda, ‘Barang siapa yang hendak berpuasa, maka puasalah, dan barang siapa yang hendak berbuka, maka berbukalah.’” (HR. Bukhari).

Dalil 3:

“Sesungguhnya orang-orang Jahiliah biasa melakukan puasa pada hari Asyura. Rasulullah SAW pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramada, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala puasa Ramadan diwajibkan, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barang siapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barang siapa meninggalkannya, juga silakan’.” (HR. Muslim no. 1126)

Apa Hukum Puasa Tasua dan Asyura?

Dilansir dari buku karya H.M. Anshary dalam buku Fiqih Kontroversi Jilid 2: Beribadah antara Sunnah dan Bid’ah, para ulama tak memiliki perbedaan pendapat tentang anjuran dan hukum berpuasa Tasua dan Asyura.

Menurut Imam Ahmad, Imam Syafi’I, sampai Ishaq, hukum menjalankan ibadah puasa Tasua dan Asyura adalah sunnah. Hal yang sama juga disebutkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr yang menukilkan beberapa pendapat ulama, yakni hukum puasa Tasua dan Asyura adalah sunnah.

Keutamaan Puasa Asyura dan Tasua

  1. Derajatnya Satu Tingkat di Bawah Bulan Ramadhan

Puasa yang dilakukan di bulan Muharram ini mempunyai derajat yang satu tingkat di bawah bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana telah disampaikan oleh Rasulullah SAW di dalam hadist riwayat Imam Muslim dan diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, yang berbunyi:

“Rasulullah SAW bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”

  1. Pelebur Dosa Selama Satu Tahun

Barang siapa yang mengerjakan ibadah puasa di 10 Muharram atau puasa Ayura, maka dosanya selama satu tahun ke belakang akan diampuni dan dilebur. Hal ini sebagaimana hadist riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

“Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra: sungguh Rasulullah saw bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat’.”

  1. Satu Hari Setara dengan 30 Hari Puasa

Puasa Tasua dan Asyura adalah puasa yang dilakukan pada bulan Muharram. Puasa yang dilakukan di bulan Muharram ini akan disetarakan dengan pahala puasa selama 30 hari penuh. Hal ini sebagaimana hadist riwayat at-Thabarani di dalam al-Mu’jamus Shaghir, di mana hadistnya Gharib akan tetapi sanadnya tak bermasalah, yang berbunyi:

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: ‘Orang yang berpuasa pada hari Arafah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa’.”

  1. Pembeda Umat Islam dengan Yahudi

Puasa Tasua dan Asyura menjadi pembeda umat Islam dengan Yahudi, di mana sama-sama berpuasa di hari Asyura. Sehingga, dianjurkan puasa Tasua di 9 Muharram dan puasa di 11 Muharram sebagai pelengkap dari puasa Asyura di 10 Muharram. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan di dalam hadist yang berbunyi:

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dengan status marfu (Rasulullâh bersabda): Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya.” (HR Ahmad).

  1. Pahala Setara 10 Ribu Malaikat’

Keutamaan puasa Tasua dan Asyura lainnya yakni pahalanya setara dengan 10 ribu malaikat yang diberikan Allah SWT ke siapapun yang melaksanakan puasa Asyura. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadist yang berbunyi:

“Barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharam), maka Allah SWT memberinya pahala 10.000 malaikat. Dan, barang siapa berpuasa di hari Asyura (10 Muharam), maka ia diberi pahala 10.000 orang berhaji dan berumrah dan 10.000 pahala orang mati syahid. Barang siapa mengusap kepala anak anak yatim di hari tersebut, maka Allah SWT menaikkan dengan setiap rambut satu derajat. Barang siapa memberi makan kepada orang mukmin yang berbuka puasa di hari Asyura, maka seolah olah ia memberi makan seluruh umat Rasulullah SAW yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka.” (HR. Muslim).

Itulah pembahasan mengenai dalil puasa Tasua dan Asyura dan hukum melaksanakannya, lengkap dengan keutamaan puasa Tasua dan Asyura.

Baca Juga:

  • Niat Sholat Jumat, Dalil, Dan Keutamaannya Dalam Islam
  • Doa Sebelum Belajar (Arab, Latin, Artinya) Dalil & Adabnya
  • Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura Bulan Muharram 1445 H
  • Kapan Puasa Asyura 2023: Jadwal, Niat, Keutamaan Puasa Asyura
  • Niat Puasa Ganti Ramadhan Arab, Latin, dan Terjemahan
  • Niat Puasa Idul Adha Latin, Terjemahan, & Keutamaannya
  • Niat Puasa Rajab Sekaligus Qadha Ramadhan Arab & Artinya
  • Niat Puasa Dzulhijjah (Arab, Latin, Arti) & Keutamaannya
  • Ratib Al-Haddad: Pengertian, Bacaan dan Keutamaannya

Tinggalkan Balasan