Apa itu Teori Resource Curse?

    Resource curse, atau bisa kita terjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai kutukan sumber daya. Teori ini mengacu pada paradoks, bahwa negara dan daerah yang kaya dengan sumber daya alam, justru mendapati pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang lebih lambat daripada negara-negara dengan sumber daya alam yang langka.

    Rocky Gerung pernah menggunakan teori resource curse ini ketika di forum Indonesia Lawyers Club sedang membahas tentang divestasi Freeport. Namun Rhenald Kasali yang juga hadir mengatakan bahwa teori ini sudah terbantahkan. Rhenald Kasali menyatakan bahwa yang menyebabkan hal demikian adalah karena sistem politiknya. Sistem politik yang korup, bukan kutukan sumber daya alamnya.

    Tetapi mungkin bisa dikatakan bahwa sistem politik yang korup pun juga bisa berhubungan dengan keberlimpahan SDA ini.

    Resource curse sering bisa disaksikan di negara berkembang setelah penemuan SDA yang besar. Terkadang teori ini dikenal juga sebagai Paradox of Plenty atau Paradoks Keberlimpahan. Tentu saja ini disebut paradoks, karena negara-negara dengan SDA yang paling berharga seharusnya maju bukan? Apa yang salah?

    Efek lain yang mungkin dari kutukan ini adalah sumber daya manusia. Negara-negara yang mengandalkan ekspor sumber daya alam cenderung mengabaikan pendidikan karena mereka tidak melihat kebutuhan mendesak ini. Sebaliknya, negara-negara dengan sumber daya alam sedikit seperti Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan. Mereka berupaya pada pendidikan dan berkontribusi sebagian untuk keberhasilan ekonomi mereka. Namun peneliti lain membantah kesimpulan ini. Mereka berpendapat bahwa sumber daya alam dapat menghasilkan sewa dengan mudah untuk pajak yang lebih sering. Lalu menghasilkan peningkatan pengeluaran untuk pendidikan.

    Varibel

    Teori ini memiliki beberapa variabel, antara lain adalah.

    1. Penurunan tingkat persaingan di sektor-sektor ekonomi lain.

    2. Volatilitas pendapatan SDA akibat menghadapi perubahan pasar komoditas global.

    3. Kesalahan pengelolaan SDA oleh pemerintah.

    4. Instituti yang lemah dan tidak efektif.

    Tesis Resource Curse

    Tesis Resource Curse pertama dipakai oleh Richard Auty di tahun 1993. Tesis ini menjelaskan bagaimana negara-negara dengan keberlimpahan SDA tidak mampu memanfaatkannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun justru pertumbuhan ekonominya menjadi lebih lambat jika dibandingkan dengan negara-negara dengan SDA sedikit. Beberapa penelitian lain adalah Jeffrey Sachs dan Andrew Warner yang memperlihatkan hubungan antara keberlimpahan SDA dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi.

    Ada banyak teori dan banyak perdebatan akademis. Sebagian besar ahli percaya kutukan sumber daya tidak universal atau tidak terhindarkan. Tetapi bisa memengaruhi jenis negara atau wilayah tertentu dalam kondisi tertentu.

    Ratusan penelitian telah mengevaluasi dampak kekayaan sumber daya pada berbagai hasil ekonomi. Lalu menawarkan banyak penjelasan tentang bagaimana, mengapa, dan kapan kutukan sumber daya ini mungkin terjadi.

    Namun sekarang ini, pembahasan tentang resource curse kelihatan semakin bergeser ke arah yang menjelaskan, mengapa beberapa negara dengan sumber daya yang berlimpah berhasil. Sedangkan mengapa beberapa yang lain tidak, daripada sekadar meneliti efek ekonomi rata-rata dari sumber daya. Penelitian ini menunjukkan bagaimana pendapatan dari sumber daya dibelanjakan, jenis sumber daya, kualitas kelembagaan, dan sistem pemerintahan. Lalu ditujukan untuk bisa menjelaskan keberhasilan dan kegagalannya.

    Kesimpulan

    Baru-baru ini, penelitian telah mulai menunjukkan bahwa kutukan sumber daya tidak semua negara sama demikian. Melihat semua studi penelitian, para ekonom telah menemukan bahwa negara-negara dengan SDA berlimpah tidak semuanya memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Terutama ketika kualitas institusi dan banyak investasi negara yang dapat dikendalikan. Dengan demikian, mungkin masalahnya lebih tentang institusi daripada tentang SDA.

    Referensi: Wikipedia