Apa itu Teori Trickle Down Effect?

    Trickle Down Effect adalah kegiatan ekonomi yang lebih besar diharapkan dapat memengaruhi ekonomi yang lebih kecil yang berada di bawahnya. Namun di Indonesia, kita bisa katakan bahwa pengaruh Trickle Down Effect yang diharapkan dari adanya pusat pertumbuhan kurang berjalan baik. Gejala tersebut dapat dilihat dari tingginya kesenjangan antara wilayah yang telah maju dengan wilayah yang tertinggal.

    Bukti bahwa teori ini kurang berjalan baik bisa kita amati dari distribusi pembangunan dan pertumbuhan yang kurang merata. Lalu menyebabkan ketimpangan dalam berbagai hal, seperti pendapatan, pendidikan, dan teknologi. Sedangkan seperti yang kita ketahui bahwa meningkatnya angka kemiskinan dapat memicu kriminalitas di masyarakat.

    Contoh Kasus

    Dengan tujuan mempermudah kita mendapatkan gambaran teori ini, kita bisa mengambil metafora yang banyak terjadi di pasar. Sekadar contoh dari Trickle Down Effect ini adalah ketika produk mahal mengalir secara vertikal dari kelas atas ke kelas menengah ke bawah, yang menciptakan kondisi sosial yang dipengaruhi kelas sosial yang lebih tinggi. Lalu mendorong dinamika difusi di mana kelompok sosial yang lebih kecil ingin meniru kelompok sosial yang lebih tinggi. Sementara kelompok yang lebih tinggi sedang berupaya untuk mengadopsi mode baru untuk membedakan diri mereka. Mereka terdorong untuk menemukan tren baru, yang akhirnya bisa diadopsi oleh kelas menengah ke bawah juga.

    Dengan demikian, maka memicu siklus perubahan yang tiada akhir, namun dapat mendorong inovasi yang berkelanjutan. Maka dari itu, awalnya sebuah produk diperkenalkan ke pasar dengan harga yang sangat mahal dan hanya orang kaya yang mampu membelinya. Namun seiring berjalannya waktu, harganya mulai turun sampai begitu murah dan bisa dijangkau oleh masyarakat umum.

    Trickle Down Effect di Indonesia

    Di dalam upaya untuk mengatasi ketimpangan di Indonesia, tentu kita sangat berharap dari Trickle Down Effect ini. Namun kenyataannya teori ini tidak berjalan seperti seharusnya. Bahkan kita bisa katakan yang terjadi adalah Trickle Up Effect, jelas istilah demikian tidak dikenal dan tidak digunakan. Tetapi kita bisa mengamati kecenderungan yang terjadi, di mana orang kaya mendapatkan semua kemudahan kegiatan ekonomi. Namun mereka tidak memedulikan perekonomian kecil yang berada di bawahnya. Dengan begitu, yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin.

    Lalu di sisi lain dapat kita kaitkan dengan kehidupan masyarakat yang cenderung hedonisme. Banyak orang bekerja untuk memenuhi keinginan untuk memiliki smartphone, kendaraan, pakaian, ataupun berbagai produk lainnya yang mode baru. Bahkan mungkin mereka bisa mendapati situasi di mana mereka mengurangi biaya makan untuk dapat mengikuti tren baru. Mereka tidak menunggu keadaan di mana barang mewah yang mahal turun harganya. Dengan demikian, tidak terjadi Trickle Down Effect.

    Maka bisa disimpulkan bahwa di Indonesia, baik dari kelas atas maupun kelas menengah ke bawah, keduanya menggagalkan teori ini.

    Loading...